Djuli Djatiprambudi

Jurusan Seni Rupa Unesa
Email: djulidjatiprambudi@unesa.ac.id

Abstrak

Artikel ini bertujuan untuk memahami pergeseran besar (great shifting) pada abad XXI yang berimplikasi sangat mendasar dan luas dalam dunia pendidikan seni. Pergeseran besar itu menimbulkan tegangan paradigmatik terhadap nilai-nilai lokalitas (kearifan lokal) yang dipertanyakan ulang. Bertolak dari tegangan paradigmatik tersebut dirumuskan tiga asumsi dasar; pertama, kearifan lokal atau secara luas disebut modal budaya tradisional Nusantara dalam konteks budaya sibernetik dapat dieksplorasi menjadi basis pendidikan seni khas Indonesia yang multikultural apabila modal budaya tersebut dipahami secara organis; bertransformasi dalam setiap ruang dan waktu. Kedua, era disrupsi dapat memberi peluang besar untuk mengubah paradigma kurikulum pendidikan seni berdasarkan pendekatan kreativitas inter/multi/transdisiplin apabila ada perubahan pola pikir yang tidak dikotomis/diametral antara lokalitas dan globalitas. Ketiga, profil guru pendidikan seni di era budaya sibernetik dapat melaksanakan pendidikan seni kepada generasi milenials apabila kompetensinya didasarkan atas kecakapan yang relevan dengan tuntutan abad XXI.

Kata kunci: Kearifan lokal, budaya sibernetik, pendidikan seni

A.      Keniscayaan Global: Memasuki Turbulensi

Abad ke-21 adalah era turbulensi peradaban. Pada abad ini seluruh jenis pengetahuan dan pengalaman manusia dipertanyakan ulang. Segala hal yang sebelumnya dianggap sebuah kebenaran, bahkan telah menjadi sistem kebenaran yang menghegemoni, sebut misalnya ilmu pengetahuan, ideologi, bahkan agama, kini relevansi dan validitasnya dipertanyakan ulang. Termasuk juga seni. Bersama filsafat, agama, dan ilmu pengetahuan, seni jauh sebelum abad ke-21 dipercaya sebagai pilar utama manusia dalam memahami pengalaman hidupnya secara diskursif, eksploratif, mendalam, dan reflektif (sublematik-filosofis).

Abad ini juga menjadi penanda hadirnya peradaban baru yang dihadirkan melalui layar (screen) yang mampu mengonstruksi realitas baru, yaitu realitas digital-virtual. Realitas ini sering tampak melampaui realitas fisikal-empiris, karena di dalamnya terjadi eksplorasi, sekaligus eksploitasi, bahkan manipulasi terhadap

realitas ontentik yang dirujuknya. Realitas digital-virtual dengan demikian merupakan bentuk arena simulakrum yang merekonstruksi realitas dengan tendensi politis dan manipulatif. Di dalamnya ada upaya pembingkaian dan mereduksi fakta- fakta (Baca lebih jauh: Thurlow dan Mroczek, 2019).

Sementara itu, dunia memasuki abad ke-21 ditandai berbagai gejala, yaitu; terjadi revolusi informasi, berbagai produk dan jasa baru ditemukan sangat cepat, meningkatnya pasar global, kecenderungan penggunaan bahasa global (Inggris), komputer dan internet memperluas persepsi manusia tentang realitas, kebutuhan pengetahuan dan kompetensi baru, melek dan cakap teknologi menjadi kebutuhan, muncul perubahan perilaku spritualitas dan berbagai perubahan norma kehidupan di dalam masyarakat (Bandingkan: Piliang, 2011; Shields, 2011)

Realitas dalam abad ke-21 dipahami sebagai realitas virtual (virtual reality). Realitas virtual berupa realitas citraan (image) yang dikemas dalam berbagai bentuk media informasi, yang disebarluaskan melalui teknologi internet. Perubahan mendasar ini merupakan rentetan dari berbagai perkembangan teknologi tinggi (elektronikra mikro), yang kemudian berdampak pada daya cipta media informasi elektronik, dari tipe fungsi tunggal menuju ke multi fungsi, dan dari ukuran besar menuju ukuran mini-pipih, serta dari susah dibawa menuju mudah dibawa.

Hal ini kemudian berdampak pada munculnya; demokrasi elektronik, beragam perspektif dalam memahami realitas, terjadi repososi lokalitas dan globalitas, dan keterbukaan komunikasi tanpa terfrakmentasi secara sosiologis. Akibatnya juga merembet kepada otoritas gagasan besar semacam filsafat, ilmu, agama, dan seni menjadi ambyar. Tidak ada lagi kategori dan kebenaran monofonik yang dijadikan titik acuan. Gejala ini mengartikulasikan bahwa realitas virtual menjungkirbalikan konsep realitas itu sendiri, memainkan fakta dan fiksi, mengaburkan batas-batas benar dan salah, dan mengkapitalisasi sesuatu entitas yang populer dianggap penting, meskipun mereduksi kualitas secara mendasar.

Terkait dengan hal tersebut, dunia abad ke-21 merupakan dunia citraan yang dikemas dalam budaya layar (screen culture). Melalui layar, manusia kontemporer mempersepsikan ulang tentang berbagai makna realitas. Di sini makna dunia diciptakan ulang, dengan berbagai metode dan daya tarik visual-auditoris. Maka, tanpa terasa, dunia layar menyeret manusia kontemporer dalam berbagai ruang

percepatan, baik percepatan ruang dan waktu. Ruang dan waktu seolah-olah dilipat dalam satu momentum yang melahirkan pengalaman dan sensasi baru tentang dunia dan realitas (Lihat: Danesi: 2002).

Dalam perspektif lebih luas, apa saja yang hadir dan dihadirkan di dunia layar seperti membentuk dunia yang tunggal. Ruang dan waktu dilipat sedemikian rupa untuk dialami bersama-sama. Tidak ada konsep jarak fisik atau geografis. Yang ada adalah konsep durasi. Inilah yang kemudian disebut globalisasi. Era ini mengajak berpikir ulang mengenai otoritas, mitos, dominasi, dan hegemoni dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk seni. Konsep-konsep itu, kini diragukan validitas dan kredibilitasnya. Segala ketegori estetis, aliran, gaya, bahasa ungkapan (tanda), wacana, hingga nilai-nilai di balik karya seni rupa, yang dulu menjadi konsep pokok modernisme, kini diragukan relevansinya. Kemudian merembet hancurnya dikotomi seni rupa Barat dan seni rupa Timur, seni rupa murni (fine art) dan seni rupa terapan (applied art), seni rupa tinggi (high art) dan seni rupa rendah (low art). Dikotomi macam itu dalam konteks hari ini dianggap tidak memiliki dominasi atas segala tafsir dalam berbagai entitas seni (Bandingkan: Sugiharto, 2019).

Dari sini lantas muncul berbagai istilah turunan yang semuanya bernada mempertanyakan ulang; diferensiasi menjadi dediferensiasi, konstruksi menjadi dekonstruksi, mistifikasi menjadi demistifikasi, metologisasi menjadi demetologisasi, sentralisasi menjadi desentralisasi, kanonisasi menjadi dekanonisasi, dan humanisme menjadi dehumanisme.

Dunia macam inilah yang dalam banyak hal menebarkan turbulensi, yaitu tampak pada gejala berbagai macam teori atau konsep yang telah dianggap benar dipersolkan validitasnya, berbagai kategori seni yang dijadikan dasar untuk menganalis gejala praktik seni dianggap tidak relevan, berbagai prinsip estetik dan aliran tidak lagi dianggap memadai untuk menjelaskan fenomena yang terjadi.

Semua itu, kini memasuki kondidi post-tradisi. Kondisi ini menolak anggapkan monodisiplin yang percaya pada kebenaran universal, rasional, dan bertendensi hegemonistik. Dalam perspektif post-tradisi, semua hal dipahami saling berelasi membangun paradigma dan praksis dalam arena yang bersifat inter/multi/transdisiplin (Baca: Sugiharto, 2019; Piliang, 2018).

B.      Kearifan Lokal: Reinvensi Modal Budaya

Kearifan lokal dalam arti luas sebagai modal budaya tradisional Nusantara memperlihatkan kompleksitas kultural yang di dalamnya terkandung gugusan gagasan, ide-ide, atau konsep filosofis yang mendalam. Sistem gagasan itu diaktualisasikan secara masif ke dalam habituasi di tengah masyarakat dari waktu ke waktu dalam batas-batas identitas budaya. Diwujudkan ke dalam berbagai artefak, yang tidak hanya berbasis fungsi (form follow function), tetapi lebih dari itu, diwujudkan ke dalam benda-benda simbolik (form follow myth). Semua ini membentuk konfigurasi world view Nusantara, yang secara paradigmatik memperlihatkan hubungan triadik yang tidak bisa dipisahkan, yaitu antara nilai kebenaran (daya pikir/logika), nilai kebaikan (daya etik/etika), dan nilai keindahan (daya estetis/estetika) (Baca: Djatiprambudi, 2019)

Proses ini membentuk gugusan budaya yang tidak saling menegasikan. Semua unsur dipertemukan dalam suaru cara memandang dunia (world view) yang kurang lebih sama. Ada banyak kesamaan ketimbang perbedaan. Ada kemiripan “ideal type” antara manusia India, Arab, China, dan manusia Nusantara, yang secara hakiki sifat-sifat budayanya berdasarkan dorongan spiritualitas (inner world).

Hal ini berbeda dengan proses transformasi budaya yang didasarkan oleh modernisme (Barat), yang menimbulkan gejolak pemikiran dan sikap antara yang berorientasi Barat sepenuhnya, Timur sepenuhnya, ataupun percampuran keduanya. Dalam proses transformasi ini terlihat adanya posisi biner yang saling berlawanan, rasionalitas lawan irasionalitas, individualitas lawan kolektivitas, homogenitas lawan heterogenitas, harizontal lawan vertikal, transenden lawan profan, universal lawan lokal, bebas nilai lawan terikat nilai, obyektif lawan subyektif, dsb. Sementara, posisi biner semacam itu tidak sepenuhnya benar. Hal ini terbukti secara empiris, kedua posisi yang seolah-olah berlawanan itu, satu sama lain saling transposisi, saling melengkapi, dan memperkaya.

Sementara itu, pada awal abad ke-20 sejumlah pemikir dari golongan elite Indonesia (kaum priyayi terpelajar) berdebat tentang modernitas. Bayangan untuk menjadi bangsa modern yang dicirikan oleh penguasaan ilmu pengetahuan (Barat)

dan secara universal mempraktikan cara hidup dan cara berpikir Barat, menjadi menakutkan bagi kalangan elite yang mempertahankan adat ketimuran yang dianggap adhiluhung.

Di pihak lain, pada era terakhir sekarang, proses transformasi terjadi dengan kecepatan tinggi dalam globalisasi digital melalui media on line internet dengan segala kecanggihan software dan hardware-nya. Hal ini menimbulkan perubahan peta mental (habitus) yang sangat mendasar. Ada gejala yang disebut desrupsi (disruption) yaitu guncangan dahsyat yang memiliki dampak sangat luas dan massif di tengah kehidupan masyarakat kota maupun desa.

Globalisasi digital lantas memobilisasi dan mengorkestrasi potensi-potensi yang berada di mana-mana, untuk disatukan, dan kemudian bergerak bersama- sama. Proses transformasi ini perlu sikap dan rumusan strategi baru berbasis cyber- technology dan konten lokal (local content) untuk menciptakan keunggulan global. Dilihat dari perspektif kreativitas gejala itu memperlihatkan bahwa manusia Nusantara pada dasarnya homo creatio (manusia kreatif) yang mampu memadukan potensi lokal (local culture) dan potensi global (global culture) menjadi peradaban Nusantara yang eklektik. Proses ini berlangsung dalam sikap dan pikiran yang terbuka (inklusif) dan melahirkan artefak budaya Nusantara yang unik dan khas; arsitektur candi, arsitektur rumah tradisional, wayang kulit, batik, keris, seni topeng, wayang beber, kain tenun, kain songket, seni anyaman, seni ukiran, patung, dsb.

Dapat dipahami bahwa lokalitas dan globalitas merupakan dialektika yang selalu dialami manusia Indonesia dari waktu ke waktu. Dialektika tersebut menimbulkan hibriditas budaya yang memperlihatkan sikap terbuka, berkesinambungan, dan adanya perubahan.

C.      Konsep Pendidikan Seni: Platform baru.

Berdasarkan perspektif lokalitas dan globalitas dalam konteks era disrupsi yang telah dijelaskan di atas, maka tidak bisa lagi dipahami dalam posisi biner, yang berhadapan, berlawanan, dan menganggap lainnya sebagai liyan (the other). Dua entitas itu dapat disandingkan dalam ruang kultural baru melalui transformasi pendidikan seni. Dalam konteks pendidikan seni di Indonesia, kearifan lokal

seringkali hanya didudukan sebatas pengetahuan masa lalu yang disikapi secara mitologis dan romantik. Padahal, kearifan lokal bersama keniscayaan global dapat diintegrasikan dalam satu paradigma baru untuk pengembangan pendidikan seni.

Sementara itu, kita tahu, teori pendidikan seni tidak bisa lepas dari pengaruh buku klasik, Education Through Art karya Herbert Read yang diterbitkan untuk kali pertama 1943. Dalam buku ini, Read (1958: 1) mengajukan tesis yang didasarkan pada pernyataan Plato; Art should be the basis of education. Tesis ini perlu dipahami apa yang dimaksudkan dengan terminologi ‘seni (art)’ dan ‘pendidikan (education)’ ketika terminologi itu dihubungkan dengan pikiran filsuf Yunani kuno itu.

Kata ‘art’ dan ‘education’ tersebut tidak serta-merta sepadan maksudnya dengan pengertian ‘art’ dan ‘education’ dalam setiap kurun dan konteks zaman. Herbert Read sendiri sejak awal mengatakan bahwa tesis masuk akal Plato tersebut telah disalahpahami. Hal ini mengingat, selama berabad-abad belum ada pemahaman tentang maksud kata seni (art). Juga secara bersamaan telah ada ketidakpastian tentang tujuan pendidikan (education).

Kata ‘art’ dalam konteks pikiran Plato tentu didasarkan pada konsep ‘techne’ (ketrampilan/ketukangan/kepandaian/psikomotorik). Konsep ini terus dipertahankan sampai zaman Renaisans abad ke-15. Artinya, sebelum Renaisans konsep ‘art’ itu belum ada. Konsep ini baru menjadi paradigma sejak Renaisans dan menjadi melembaga sebagai fine art (arte liberales) pada abad ke-18. Konsep ini untuk membedakan konsep applied art (arte serviles) yang berorientasi pada fungsi pragmatis-keseharian. Sedangkan kata ‘education’ bermakna luas dalam konteks pengembangan olah raga, olah pikir, olah rasa (kepekaan estetik). Semua itu harus dikembangkan secara terintegrasi, tidak bersifat trikotomis.

Selain Herbert Read, teori pendidikan/pembelajaran seni juga didasarkan pada buku Creative and Mental Growth karangan Lowenfeld dan Brittain (1970). Buku ini didasarkan pada teori perkembangan kognitif Piaget yang saat itu sangat mempengaruhi teori-teori pembelajaran sebagaimana teori Jung yang mempengaruhi Herbert Read dalam upayanya menganalisis gambar anak. Berikutnya pendekatan pendidikan seni dikembangkan melalui pandangan Elliot Eisner (1972) yang didasarkan pada dimensi sosio-kultural. Kemudian Taylor

(1986) mengembangkan ke arah nilai berpikir kritis. Mason (1998) dan Chambers (1998) menekankan pada advakasi pendekatan inter kultural. Dan Matthews (1994, 1999) mengombinasikan ide pengembangan universal dalam sosio kultural (Periksa lebih jauh: Atkinson, D. 2002).

Pendek kata, teori pendidikan/pembelajaran seni selalu dinamis, berelasi dengan perkembangan utamanya teori-teori psikologi, sosiologi, dan budaya. Karena itu, konsep pendidikan seni tidak hanya didasarkan pada prinsip pendidikan melalui seni, yang memposisikan seni hanya sebagai “media antara” untuk sampai pada tujuan pendidikan. Padahal, seni memiliki dimensi jauh lebih kaya ketimbang hanya berposisi sebagai “media antara’.

Dalam konteks hari ini (budaya sibernetik), konsep pendidikan seni mau tidak mau perlu direlevansikan dengan generasi milenials sebagai representasi dari generasi digital. Generasi ini hampir sepenuhnya memiliki kultur baru yang didasarkan pada wacana digital. Konsep pendidikan seni tidak cukup jika hanya direduksi ke dalam “media antara” untuk mencapai tujuan pendidikan. Generasi milenial yang sangat atraktif dalam berkomunikasi, yaitu menggunakan media baru, yang secara cepat mampu menembus batas-batas teritorial dan identitas kultural.

Generasi digital, memerlukan bentuk komunikasi multimedia, multilingual, multikultural, dan multiestetik, yang memungkinkan dapat secara cepat dan tepat mengakomodasi kebutuhannya. Karena itu, generasi digital atau generasi internet, memerlukan paradigma baru dalam model-model pembelajarannya, hingga pada cara-cara berkomunikasi yang secara intens menggunakan media yang berbasis digital. Di sinilah, guru di era digital, haruslah guru yang benar-benar memahi praksis pembelajaran yang banyak mengelaborasi kekuatan multimedia.

Sementara itu, perlu disadari, pendidikan pada abad ke-21 mengalami berbagai pergeseran paradigma; setiap orang adalah pembelajar, sumber informasi dari buku bergeser ke internet, proses pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, tidak bergantung pada peran pemerintah, sepanjang hayat, di manapun, kapanpun, kurikulum global, dan sebagainya.

Berbagai pergeseran paradigma itu secara diametral mengubah profil guru abad ke-21, yang dapat dikatakan sebagai the new teacher. Karakter the new teacher antara lain; membatu pembelajar menyusun pengetahuan untuk mereka sendiri,

menginspirasi dan memperkaya pengetahuan pembelajar dengan berbagai perspektif, menggunakan berbagai alat-alat berbasis digital dan internet, mendorong pembelajar berpikir kreatif dan inovatif.

Akhirnya, dalam kaitannya dengan modal kearifan lokal Nusantara, konsep pendidikan seni yang tergambar seperti di atas, selanjutkan dapat berpeluang untuk mengembangkan perspektif miltikulturalisme ke dalam pendidikan seni. Pertimbangannya ialah; 1) Berdasarkan aspek filosofis dan historis, multikulturalisme telah berakar kuat dalam budaya Nusantara (unity in diversity);

2) Berdasarkan aspek materialnya, budaya Nusantara menyediakan bahan atau artefek yang sangat beragam, baik; bentuk, gaya, teknik, simbol, fungsi, media, dsb.; 3) Berdasarkan konteks masyarakatnya, secara organis mereka hidup dalam lapisan-lapisan nilai yang saling berkesinambungan dan memperlihatkan perubahan (continuities and change); 4) Berdasarkan dimensi politik identitas, multikulturalisme membuka peluang terjadinya sosok generasi baru yang berkarakter humanitis-religius, sosial-etis, dan multikultural-ideologis (Bandingkan: Csikszentmihalyi, M. 2014).

Ini artinya; pertama, kearifan lokal tradisional Nusantara dalam konteks budaya sibernetik dapat dieksplorasi menjadi basis pendidikan seni khas Indonesia yang multikultural apabila modal budaya tersebut dipahami secara organis; bertransformasi dalam setiap ruang dan waktu. Kedua, era disrupsi memberi peluang besar untuk mengubah paradigma kurikulum pendidikan seni berdasarkan pendekatan kreativitas inter/multi/transdisiplin apabila terjadi perubahan pola pikir yang tidak dikotomis/diametral antara lokalitas dan globalitas. Ketiga, profil kompetensi guru pendidikan seni akan dapat melaksanakan pendidikan seni kepada generasi milenials apabila kompetensinya didasarkan atas pengetahuan dan kecakapan yang menjadi habitus dalam peradaban abad XXI.***

Bahan Bacaan:

Atkinson, D. 2002. Art in Education: Identity and Practice. New York: Kluwer Academic Publisher.

Csikszentmihalyi, M. 2014. Applications of Flow in Human Development and Education. Claremont USA: Springer.

Kata.

Djatiprambudi, Djuli. 2019. Seni Rupa dalam Titik Simpang. Sidoarjo: Satu

Lowenfeld, V., Brittain, W. L. 1982. Creative and Mental Growth. Seventh

Edition. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.

Piliang, Y. A., dan Jaelani, J. 2018. Teori Budaya Kontemporer: Penjelajahan Tanda & Makna. Yogyakarta: Aurora.

Piliang, Y. A. 2018. Medan Kreativitas. Yogyakarta: Aurora. Piliang. Y. A. 2011. Dunia yang Dilipat. Bandung: Matahari.

Read, H. 1958. Education Through Art. London: Faber and Faber Limited. Shields, R. 2011. Virtual: Sebuah Pengantar Komprehensif. Penerjemah:

Hera Oktaviani. Yogyakarta: Jalasutra.

Sugiharto, B. 2019. Kebudayaan dan Kondisi Post-Tradisi: Kajian Filosofis atas Permasalahan Budaya Abad ke-21. Yogyakarta: PT Kanisius.

Thurlow, C., dan Mroczek, K., Ed. 2019. Wacana Digital: Bahasa Media Baru. Jakarta: Prenadamedia Group.

Biodata: DJULI DJATIPRAMBUDI – Lahir di Tuban, 12 Juli 1963. Pendidikan Program Doktor Ilmu Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana ITB, lulus 2009. Sejak 1986 hingga kini, aktif menulis seni rupa di sejumlah media massa dan jurnal ilmiah seni rupa, pendidikan, dan kebudayaan. Peneliti seni rupa dan kebudayaan, serta pengajar mata kuliah Kritik Seni, Estetika, Teori Seni, Metode Penelitian Seni, dan Statistika di Jurusan Seni Rupa, Jurusan Desain, dan Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Pengajar/pembimbing/penguji tamu di Program Doktor; Pendidikan Seni Unnes, Kajian Seni Rupa UGM, Ilmu Seni Rupa ITB, Ilmu Sosial Unair. Sejak 1991 menulis kritik seni di sejumlah koran; Kompas, Jawa Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Surya, dan sejumlah majalah seni dan kebudayaan; majalah Visual Art, majalah Arti, majalah Gong, majalah kebudayaan Basis, majalah Galeri, dan sebagainya. Mengerjakan kuratorial pameran seni rupa, sejak 1995-sekarang. Mengikuti pameran seni rupa berskala lokal, regional, dan nasional sejak 1995 – sekarang. Menulis sejumlah buku, antara lain; BUNG KARNO, SENI RUPA    DAN    KARYA    LUKISNYA    (2001);    TINJAUAN  SENI (2003); DINAMIKA DWIJO SUKATMO (ditulis bersama Eddy Soetriyono, 2005); MOEL SOENARKO:  PELUKIS  REALIS-HUMANIS  (2005); SPIRITUALITY OF ASRI NUGROHO’S ART (ditulis bersama Setiawan Sabana, 2006); MENGGUGAT SENI MURNI (2007), MUSNAHNYA OTONOMI SENI (2010); APA ITU SENI RUPA HARI INI? (2014), SENI RUPA INDONESIA DALAM TITIK SIMPANG (2016); ERA KRITISISME TELAH BERAKHIR (2018). Kontributor buku MODERN INDONESIAN ART FROM RADEN SALEH TO THE PRESENT DAY (2006); JARINGAN MAKNA TRADISI HINGGA KONTEMPORER (2006); SELECTED WORKS OF NINETY-NINE ARTISTS
WHO DEPICTED INDONESIA (2013), dan kontributor sejumlah penulisan katalog pameran seni rupa berskala lokal, regional, nasional, dan internasional. Sebagai Asesor BAN PT Kemendikbud. Pemilik dan pendiri: “Omah Mikir” Kota Batu. E-mail: djulidjatiprambudi@unesa.ac.id dan djulip@yahoo.com. Mobile Phone: 081333185564. Rumah tinggal: Jl. Mustari Gg. Vihara No.33/3 Kota Batu, Jawa Timur.